Arsip Bulanan: Januari 2013

langit yang menghukum

  langit sedang hitam pongah, dendamkah..? padahal tanah sudah bernanah, rongak sejak batu-batu disusun gagah, Iklan

Dipublikasi di Puisi, SAJAK | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

“aku sebait putik”

resah gulita. aku. berlari selekas waktu bertudung rindu. menyiumi roma kenangan yang satusatu pecah, kecai dalam dendang. bayangmu… direnda tiada. tak berbadik, aku melirik. kupersembahkan “aku sebait putik” te’ 2809-12

Dipublikasi di Puisi, SAJAK | Meninggalkan komentar

Entah laut menganga luka! Entah.

pada laut menganga luka, kidung-kidung aku menari membawa gelas hampa diatas pepasir, tapi Engkau jauh tiada. Aku, rindu payau; merana… Sebagaimana setapak dihapus buih ombak jalanan, Engkau, lesap begitu saja pada laut menganga luka, darah mengering, Kau juga tak ada. … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Puisi, SAJAK | 3 Komentar

setalitigatiang

malam. lamun menyeringai tak larut-larut. menerawang di bawah sabit resah. menangkup setali tiga tiang, tiang merah darah, tiang hitam dendam, dan tiang panjang para telanjang. kacriitt .! dari tepi sampai ujung moratmarit kami jadi kacung. retakretakan gersang tanah kami kini … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Puisi, SAJAK | Meninggalkan komentar

oi – (melarat sekarat)

oi – (melarat sekarat) aku . . Baru saja melampung, setelah jauh merenangi jejanjian yang panjang yang setiap teriak tak pernah tak parau, semakin parau tak kian aku bergurau. Oi, dah jauhkah nelangsaku? Sampai hati kau biar aku mengorek busung, … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Puisi, SAJAK | 2 Komentar

Langitku tak Lagi Langitmu

langitku, tak lg langitmu. Langit yg terhantuk jejanjian, sedang bulan mengintip resah, dan aku lupa menyusupi sebagian kehangatan yg katanya ada padamu.. yah… langit ku masih abu-abu … meski bulan kini membiru, lekas saja ku sesapi rindu yang padamu, pun … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Puisi, SAJAK | 2 Komentar

“bolehkah.

Oleh te’, 5 sept 2012 pagi, dan disini hujan belum berhenti; _ Jadi, sebenarnya bolehkah aku meminta air pada-Mu ? Untuk memandikan sepasang peluh yang berpacu dengan duabelas jarum timpang saling siur di tepi jurang bolehkah aku meminta kucuran segar … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Puisi, SAJAK | Tag | Meninggalkan komentar