WAR Trip to Bandung – hayuk, kapan lagi kita ketemu? :D

permisi, maaf ini saya muncul lagi setelah hilang timbul.

ini, si temen. Kang Beta udah ngelunasin hutang menulisnya tentang WAR Trip To Bandung (Baca di)

Ini adalah cerita dari su

dut pandang saya sebagai pelakon yang pada hari itu ikut nimbrung dalam kegiatan Kopi Darat (KOPDAR – istilah ketje-nya dari; ngumpul-ngumpul atau nongkrong bareng) Anggota Grup Menulis Writers and Readers yang berdomisili di Nusantara.

Hari itu sesuai dengan kesepakatan dan konfirmasi dari beberapa anggota yang sampai saat ini masih aktif dengan kegiatan menulisnya (ya, seenggak-nya coret-coret di wall FB atau kicaunya di Twitt) kami bersepakat untuk melakukan pertemuan perdana kami di Bandung. Mengingat semua anggota adalah Penulis dan Pembaca yang domisilinya tidak berada dalam satu kota, maka persiapan perjalanan harus cukup matang (meskipun pada dasarnya malah kematengan #eh)

Mulai dari persiapan tiket, sampai ke tempat tujuan dan tempat menginap semua terencana rapih, meskipun di tengah perjalanan ada sedikit perubahan ini-itu, namun tidak membatalkan atau merusak acara KOPDAR-an.

Ini, nih temen-temen yang ikutan nimbrung di acara KOPDARA-an;

1606276_618849178151446_153414208_o copy

Seperti yang sudah di-bilang Kang Beta dalam posting-an di blog-nya (baca di atas) mestinya posting-an ini dibuat sesaat setelah kepulangan kita ke kota masing-masing, tapi karena banyaknya alasan, akhirnya sampai di malam Ramadhan ini saya baru berniat baik melunasi hutang menulis saya. hehe..

Tulisan kali ini agak kurang berbentuk ya, lebih seperti curcol singkat saya tentang perjalanan di sana. 🙂

oke langsung aja.

ini tulisan yang terbit di Notes Facebook berjudul “di sini kata-kata adalah kita

tak jauh, hanya beberapa depa yang terkesan berjarak

mungkin kita adalah orang-orang yang tersesat dan saling menemukan satu sama lain, sedang jalan dan arah hanyalah haturan angin; mengatur  kapan musim harus menimpa harapan dengan kenyataan.

 

“Di sini, kata-kata bertaburan. Sajak dan prosa, puisi dan cerita… Semua adalah kita. Lingkaran huruf dan kotak-kotak angka seperti tak dapat terpisahkan, Seolah-olah waktu dan tempat bukan jadi masalah. Di sini, kata-kata adalah kita”

 

sepetik perkataan itu tersangkut, dan nyatanya, beberapa hari lagi mampu menyatukan kita. Saling tersenyum, saling mengenal ulang karakter “aku” dalam perasaan masing-masing; kita.

tulisan ini kemudian mengantarkan kita ke pintu kopdar,  Bandung International Airport (Husein Sastranegara).

Pagi buta, Tim dari Surabaya dan Jakarta datang bersamaan lewat pintu Tol Cipularang (eh, Tol apa ya, lupa -__-” yang diinget Tol Cipularang aja, saoalnya katanya paling angker) pada tanggal 24 Januari 2014.

Banyak hal yang terjadi waktu itu.

Mulai dari pengenalan karakter tokoh yang ternyata gak ada yang terlalu mirip dengan avatar di media sosial, sampai kebiasaan-kebiasaan yang ternyata tanpa malu dipertunjukkan. Sempet mikir, sih..(mikir?) kaya mana kalau ternyata akunya salah bicara, atau salah sikap yang pada akhirnya nyakitin temen-temen yang baru ketemu dan entah kapan bisa ketemu lagi itu, atau ada mungkin tanpa sadar melakukan hal-hal aneh yang terbiasa dilakukan saat kumpul bareng dengan temen-temen dekat, semuanya sempat jadi hal yang parno dan gak mau sampe kejadian. pada akhirnya kita nyaman dengan yang namanya “apa adanya”

Dalam pertemuan itu semua jadi diri sendiri (ha, elah. selama ini apa? :D) bersikap biasa saja seperti mana percakapan-percakapan di dunia maya, terbawa sampai dalam pertemuan itu. Semuanya seperti menemukan satu sama lain, seperti teman lahir yang sudah janggutan gak ketemu *nah lho.. ya, pokoke semua dari mereka jadi hal apa yang disebut ‘sahabat’ dalam waktu kurang dari beberapa menit ketemu.

Grup yang kami namai WAR ini sendiri berdiri pada sekitaran 7 Juli 2012. mulanya iseng-iseng, saling komen di blog, sampe berlanjut ke media sosial yang lain, seperti notes-notes facebook, dan twitter, WA .. akh, entah seperti apa persahabatan dunia maya ini bermula, yang jelas semua menikmati pertemuan kurang dari seratus jam itu dengan perasaan yang saya yakin pasti lebih dari kata AMAZING.

Banyak tempat yang kami kunjungi, terutama wisata kulinernya di sana. Bandung yang terkenal sebagai Kota Bunga dan masakan yang unik-unik, mengantarkan kami pada keingin-tahuan yang kelewatan. Sampai nama rumah makan pun aneh-aneh seperti Rumah Makan Alas Daun, haha, sempet heran sih dengan nama itu,  dikirain, kan makannya beneran cuman beralas daun, tok, ternyata tetap sedikit dibumbui suasana modern.

Paling berkesan sih di dua tempat, selain kawah putih, tangkuban perahu, dan Boscha; adalah Danau Situ Patenggang yang ada Batu Cintanya, dan satu tempat lagi itu adalah Saung Angklung Udjo.

Danau Situ Patenggang. Banyak hal unik yang sempet diharep-harepin. entah apa, tapi yang jelas waktu tak berbicara perasaan, hanya berbicara sikap apa yang mesti dilakukan.

Situ Patenggang berasal dari bahasa Sunda, pateangan-teangan(saling mencari). Mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri titisan Dewi yang besar bersama alam, yaitu ki Santang dan Dewi Rengganis. Mereka berpisah untuk sekian lamanya. Karena cintanya yang begitu mendalam, mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan “Batu Cinta”. Dewi Rengganispun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara /Pulau Sasaka). Menurut cerita ini, yang singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau asmara, senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka. (Sumber Wikipedia)

nah, lain cerita situ patenggang, lain lagi di Saung Angklung Udjo. Di sini saya baru bener-bener tahu bagaimana sih kebudayaan yang namanya ‘angklung’ itu dimainkan. Hal yang mengesankan adalah kami (dan wisatawan lain) setelah diberi pertunjukan permainan angklung yang menakjubkan, kami diajak langsung memainkan alat musik tersebut dengan metode-metode yang ringan dan mudah dipahami. Pada penghujung penampilan, setiap pengunjung ditarik satu per satu ke tengah panggung pertunjukan untuk bersama memainkan tarian dan lagu-lagu khas Bandung dan Nusantara, dimana permainan itu dilakukan seperti permainan anak-anak era 90’an seperti bermain kereta api; saling memegang pinggul di depan tanpa terputus menyatu seperti kereta dan berputar-putar. Mengesankan. Mereka yang hadir bukan hanya Wisatawan Lokal, tapi juga Manca Negara dan itu bener-bener AMAZING!

Saung Angklung Udjo (SAU) adalah suatu tempat yang merupakan tempat pertunjukan, pusat kerajinan tangan dari bambu, dan workshop instrumen musik dari bambu. Selain itu, SAU mempunyai tujuan sebagai laboratorium kependidikan dan pusat belajar untuk memelihara kebudayaan Sunda dan khususnya angklung.

Didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati, dengan maksud untuk melestarikan dan memelihara seni dan kebudayaan tradisional Sunda. Berlokasi di Jalan Padasuka 118, Bandung Timur Jawa Barat Indonesia.

Dengan suasana tempat yang segar udaranya dan dikelilingi oleh pohon-pohon bambu, dari kerajinan bambu dan interior bambu sampai alat musik bambu. (sumber wikipedia)

Selain dua tempat berkesan ini, masih ada yang menakjubkan waktu itu; Wisata Night Kulinary of Braga.

kalau harus komentar, gak bisa ngomong lagi nih, ngelihat pesta makanan sepanjang jalan BRAGA. di sana macem-macem makanan seperti wajib dicicip dan dibawa pulang, tapi apalah daya, dana tak sampai. hhaha… ya, pokoknya gak ada yang bisa disebutin selain dahsyatnya pesta kuliner di jalan braga itu. Ternyata kegiatan wisata kuliner di jalan Braga itu adalah kegiatan kali pertama diadakan di Bandung dan kami adalah orang paling bahagia dapat menikmati pesta kuliner tersebut pada waktu yang bertepatan.

Braga Culinary Night pertama kali dilaksanakan pada 11 Januari 2014  Untuk mendukung pelaksanaan ini, Jalan Braga ditutup untuk umum mulai dari sore hingga malam hari. Jalan Braga sepanjang 500 meter dibagi menjadi tiga zona makanan yaitu zona harga murah, zona harga sedang dan zona harga mahal. Zona harga murah diisi dengan makanan gorengannasi goreng emang-emang dan jajanan kecil lainnya, zona harga sedang diisi dengan makanan-makanan seperti sushi sedangkan zona harga mahal diisi dengan makanan steak dan semacamnya. Adanya tiga zona dalam pelaksanaan Braga Culinary Night membuat acara ini dapat diikuti oleh semua kalangan baik masyarakat lokal, wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. 

Pedagang makanan yang ikut dalam acara Braga Culinary Night merupakan beberapa penggiat bisnis kuliner di Kota Bandung, para pemilik toko di Jalan Braga serta warga yang berada di sekitar Jalan Braga. Selain itu, di beberapa titik dibangun panggung-panggung hiburan yang akan diisi dengan penampilan beberapa komunitas seni dan musik di Bandung.  Kegiatan ini dibuka pukul 18.00 dan selesai pukul 01.00 dini hari.  (Sumber Wikipedia)

Perjalanan yang hangat, tak bisa dipungkiri kalau harus diakhiri dengan ‘kembali’ ke kota masing-masing. Kehidupan yang sejenak, adalah nikmat yang tak pernah bisa dipetik lagi dengan nilai yang serupa. KOPDAR-an ini akhirnya ditutup dengan belanja oleh-oleh bareng di Ciwalk.

Memasuki  Ciwalk, maka kamu akan seperti memasuki Garden By the bay Singapura. Bedanya, kalau di Garden by The Bay kamu akan disajikan dengan wisata taman, kamu di Ciwalk akan disajikan wisata seni dan barang-barang unik yang wajib dijadikan oleh-oleh untuk pulang ke kota asal.

Cihampelas Walk (Ciwalk) adalah salah satu pusat perbelanjaan mewah di Kota Bandung. Mall ini berdiri pada tahun 2004. Mall ini merupakan tempat berbelanja yang berbeda, bersih dan nyaman. Ini memang dikondisikan untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung agar lebih nyaman berbelanja.

Berjalan-jalan di Cihampelas pada siang, sore dan malam hari akan berbeda suasananya. Lampu dari tiap gerai dan bangunan utama pada malam hari akan memberikan atmosfer yang berbeda, belum lagi juntaian dan lilitan lampu hias yang digantungkan di pohon-pohon sekitar outdoor Ciwalk.

Pada tahun 2009 Ciwalk memberikan variasi baru untuk pengunjung. Yaitu dengan CX Cihampelas Walk Extension yang terdiri dari butik, hotel, dan skywalk. Ciwalk extention merupakan terobosan baru yang akan hadir melengkapi kawasan belanja Cihampelas Walk. (Sumber Wikipedia)

 

Selesai berbelanja dan memenuhi hasrat kenangan, kami pun bergegas menutup kegiatan KOPDAR-an dengan sesi “CURHAT” yang gak bisa saya ceritain di sini. hehe.. Sesi terakhir sebelum akhirnya istirahat dan pulang ke kota masing-masing pada pagi harinya itu adalah sesi paling mengharukan dimana kita masing-masing belajar mengenal tokoh ‘aku’ yang kita bawa dari rumah dan pulang dengan karakter tokoh ‘kita’ yang tak mudah dilepaskan begitu saja.

terimakasih untuk semua yang sempat kita bisikkan dalam hati kita masing-masing kalau ini bukan hanya terjadi di dalam fiksi maya, tapi juga akan terus menjadi kenyataan selanjutnya. Terimakasih buat Kang Bet, dan Kang Eky yang udah banyak membantu pertemuan ini, juga untuk kak Rya, mba’ Dian, Itaita dan Naili yang udah mau capek-capek ikutan kopdar paling seru tahun ini. terimakasih, kalian sahabat yang baik, sayang kalau harus hilang begitu saja.

Semangat terus buat kalian semua, karena setiap kita punya cerita.  ini ceritaku, mana ceritamu? (duh, ketuleran iklan, ih.)

😀 salam kreatif, salam aktif.

Batam, 13 Juli 2014

Kokinos Te

Iklan

Tentang kokinos

ku tuang kan rindu di sini. juga cerita-cerita tentang kita, mereka, dan serta merta juga alam sekitarnya
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s