Juang-

pada detikdetik rintik

kuceritakan kamu

langit abuabu yang gugur dalam gerbang

kini rebah kembali pulang

seperti katak yang terlentang

; ibarat kata

kitalah wayangwayang

 

kemudian aku membaca

topang angin dan gigil keinginan sama juang

pada harapan

sedang senja mengikat erat

air liur yang tak juga reda

dan lukaluka terakibat duka

bernanah airmata

 

lantas kemudian,

akan seperti apa kita tata

cugak matahari dan enamratus gugus

masa depan yang renta

serta sederet koyak moralitas

di mata bangsa

 

bukan kita terlalu lama

merasa puas dengan daun talas

tapi pembiaran yang ituitu saja

bahasa ketidakperdulian pada saudara

 

lantas seperti yang kuceritakan

tentang langit abuabu

rebahlah kembali pulang

mainkan lagi wayangwayang

katakan;

tidak kami yang ‘kan jengkang

 

 

te’ 1809.13

juang

Tentang kokinos

ku tuang kan rindu di sini. juga cerita-cerita tentang kita, mereka, dan serta merta juga alam sekitarnya
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s